Tradisi Masyarakat Sasak (Nyeput)


Assalamualaikum.
Hai teman-teman selamat datang di blogger saya lagi.
Nama saya Nurwidayanti berasal dari Bima Nusa Tenggara Barat (NTB). Sekarang saya sedang menempuh pendidikan S1 di salah satu universitas ternama di NTB,  saat ini saya sudah menduduki  semester  V dan mengambil jurusan pendidikan Bahasa dan Seni, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tepatnya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Mataram. Cerita saya kali ini masih seputaran naskah kuno sama seperti di blogger saya sebelumnya, tapi di blogger saya yang sekarang ini, sedikit saya menceritakan terkait pengalaman saya dan teman-teman saya melakukan Nyeput di sebuah desa yaitu desa Bangket Parak, Kecamatan Pujut, Lombok tengah. Di mana Nyeput ini merupakan tradisi ataupun adat dari masyarakat sasak (Lombok). Sama seperti perjalanan kami sebelumnya, kami mengkonfirmasi dulu hal tersebut ke bapak Mujahidin Nafis dan ia bersedia membantu kami untuk melakukan proses Nyeput tersebut dan kami kekediaman beliau untuk yang kedua kalinya.
Saya dan teman-teman saya melakukan proses Nyeput pada hari Sabtu, 02 November 2019. Sesampainya kami di rumah beliau, kami langsung melakukan proses nyeput. Dimana  pada saat kami di nyeput, ada tiga orang yang membantu proses tersebut yaitu bapak Mujahidin Nafis, Musrafa Parna, dan Hj. Najamuddin. Kami melakukan proses nyeput dengan menggunakan Takepan lontar Labangkare.



Dokumen: Perlengkapan Ritual Nyeput.

Ø  Isi  Naskah Labangkare
Takepan yang digunakan pada saat kami nyeput yaitu takepan lontar Labangkare. Takepan ini menceritakan seorang yang bernama Lanbangkare mendatangi tempat yang dihuni oleh raksasa. Dimana di tempat tersebut berada di hutan blantara dan ada salah seorang wanita cantik seperti yang ada di mimpi raja Wanasari. Kemudian raja Wanasari memerintahkan salah seorang patihnya untuk mencari wanita yang ada dimimpinya, jika patih tersebut tidak pulang membawa wanita cantik itu ia di ancam untuk tidak akan kembali ke tempat raja itu. Namun patih tersebut tidak berhasil membawa pulang gadis cantik itu, kemudian patih ini melihat ada seorang anak yang sedang duduk sambil menggambar ditanah, dan anak itu merupakan Labangkare. Patih tadi menyuruh labangkare untuk mencari keberadaan wanita yang ada dimimpi raja tadi, dan harus membawanya pulang, jika tidak ia mengancam labangkare dan akan membunuhnya. Labangkare mengiyakan perintah patih tersebut dan bersedia mencari keberadaan wanita itu. Sebelum labangkare berangkat iya meminta izin terlebih dahulu ke ibunya yang bernama Rangde Ping Sange. Labangkare melewati 7 pintu dan dari tujuh pintu itu tiap pintu memiliki penjaga yang berbeda-beda dan sangat menakutkan. Sesampainya Labangkare di tempat tersebut ia di hadang oleh raksasa, ditanya kenapa bisa sampai disini, padahal tempat ini berbahaya? Labangkare menjawab bahwa ia diperantarai oleh raja Wanasari untuk mencari buah mimpi, Raja tersebut bermimpi bertemu seorang gadis untuk dijadikan istri. Akhirnya labangkare berhasil membawa pulang putri cantik yang ada di mimpi raja Wanasari itu, semua orang yang melihat merasa kaget dan terheran-heran. Namun wanita cantik itu tidak jadi menikah dengan raja Wanasari tetapi menikah dengan Labangkare.





Dokumen : Pembacaan Iai Takepan Lontar Labangkare


Ø  Isi lembaran Tembang Nasehat
Dari naskah Labangkare, saya medapat lembaran takepan Lontar mengenai Tembang Nasehat. Tembang ini menceritakan bahwa mimpi raja sudah ditemukan oleh seorang anak yang bernama labangkare. Dimana labangkare ini merupakan anak yang patuh dan sangat kuat terhadap agamanya. Dan labangkare ini menempuh berbagai rintangan untuk bisa mendapatkan apa yang menjadi buah mimpinya raja yaitu membawa pulang putri cantik yang disembunyiin oleh raksasa di gua, dan raja Wanasari ingin menikahi Putri tersebut. Ia melewati berbagai rintangan dengan izin dan restu dari ibunya.  Dari lembaran tembang nasehat itu Pemaos yang bersama kami melakukan ritual nyeput memprediksi bahwa kehidupan saya seperti Labangkare anak emas yang artinya  banyak disayangi oleh orang-orang disekelilingnya. Orang yang sudah mendapatkan apa yang menjadikan keinginan lewat ketekunanya Seperti pada isi naskah. Anak ini memiliki jiwa yang semangat untuk meraih keinginannya dari kemampuan dan usaha yang ia lakukan dan ia terbilang anak yang rajin dan patuh terhadap orang-orang serta menjadi anak kebanggan keluarganya. 



Dokumen : pengambilan lembaran naskah Labangkare

Ø  Kaitan antara Nyeput dengan Pendekatan Sosilogi Sastra
Di sasak Nyeput merupakan tradisi atau adat dari masyarakat sasak. Nyeput sendiri diartikan sebagai gerak cepat atau menjemput supaya apa yang diinginkan cepat sampai/terpenuhi dan itu merupakan kepercayaan oleh masyarakat sasak setempat. Sedangakan pendekatan sosiologi sastra yang saya ketahui merupakan objek dan ilmiah tentang manusia dan masyarakat, tentang lembaga sosial dan proses sosial. Di sasak proses nyeputnya dilakukan dengan cara tembang (lantunan) sejenis nyanyian. Seperti halnya yang pernah kami lakukan yaitu kami di suruh mengambil masing-masing selembar takepan lontar tersebut dengan menggunakan tangan kanan dan menarik tali takepan dengan tangan kiri sambil baca shalawat, setelah itu diserahkan ke orang-orang yang bisa melakukan ritual nyeput tersebut. Takepan lontar yang kita ambil tadi di bacakan oleh pemaos yang sudah paham akan ritual nyeput.

Kaitan nyeput dengan pendekatan sosiologi sastra. Ritual nyeput ini pertama kali dibudakan oleh orang tua pada zamannya dulu. Seperti yang saya ketahui nyeput ini sudah sangat lama dijadikan tradisi oleh masyarakat sasak, dan sampai sekarang orang-orang sasak tidak terlepas dari yang namanya nyeput bahkan masyarakat sasak masih mampu menjaga leluhur dari nenek moyangnya, mulai dari melestarikan dan perlahan-lahan mereka mengajarkan hal itu ke anak cucunya dan nantinya akan diwariskan pula ke mereka. Budaya nyeput memang adanya sejak dulu setelah adanya islam karena nyeput merupakan bagian dari kebudayaan islam dan keberadaan ritual ini selaras dengan keberadaan kitab-kitab atau naskah kuno. Masyarakat sasak mempercayai adanya nyeput sebagai bagian untuk menjemput apa yang menjadi keinginan dari mereka karena takepan ini bisa meramal apapun cita-cita manusia. Istilah nyeput di sasak merupakan cara untuk memprediksi bagaimana kehidupan ataupun keadaan manusia kedepannya. Ritual nyeput ini biasanya diadakan sewaktu ada acara-acara besar  misalnya acara  perkawinan, khitan dan acara besar lainnya. Sebelum melakukan ritual orang yang bersedia untuk di nyeput harus mengeluarkan uang terlebih dahulu sebagai shalawat dan setelah itu dibagi kebujangganya. Menurut masyarakat sasak, mereka bisa mencari keberuntungan dengan cara melakukan ritual nyeput. Jadi berbicara mengenai  kebudayaan dan tradisi tidak terlepas dari sosiologi dan sastra. Karena sosiologi juga membahas kaitan antara masyarakat dan lingkungannya, masyarakat dengan kebiasaannya, dan bagaimana masyarakat itu berlangsung. Begitu juga sastra yang mencoba menjelaskan kembali mengenai realitas kehidupan masyarakat, contohnya seperti Budaya Ritual Nyeput di Sasak. Budaya ini sangat berhubungan dengan kehidupan sosial. Adanya ritual ini berawal dari adanya manusia dan kehidupan sosialnya pada masa dulu dan seiring berjalannya waktu budaya itu di lestarikan dan di wariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.  

Mungkin ini saja yang bisa saya bagikan kepada teman-teman mengenai perjalanan saya melakukan Ritual Nyeput di Lombok.
Semoga bermanfaat dan bisa membantu teman-teman untuk mengetahui Ritual Nyeput adat Sasak.
Sekian dan Terimaksaih.


Komentar

  1. Wow, kembangkan lagi dan tetap semangat❤️💕

    BalasHapus
  2. Semangat dek..lebih kreatif lagi yah..keren❤

    BalasHapus
  3. terimakasih, artikel yang ditulis sngt bermanfaat

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Kerreen...
    Tapi next lebih simpel lagi yaaa😂

    BalasHapus
  6. Bagus.semoga bermanfaat untuk byk orang

    BalasHapus
  7. Waw.. panjang sekali. Namun bagus kk.. sangat bermanfaat untuk menambah wawasan.

    BalasHapus
  8. Terlalu panjang mbak, jadinya malas saya baca

    BalasHapus

Posting Komentar