Takepan Lontar Hikayat Nur (Nabi)

Asalamualaikum.
Hai teman-teman, selamat datang di blogger saya.
Nama saya Nurwidayanti  berasal dari Bima Nusa Tenggara Barat (NTB). Sekarang saya sedang menempuh pendidikan S1 di salah satu universitas ternama di NTB,  saat ini saya sudah menduduki  semester  V dan mengambil jurusan pendidikan Bahasa dan Seni, program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tepatnya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Mataram.  Saya ingin bercerita ataupun membagi pengalaman  terkait dengan perjalanan saya mencari Naskah kuno yang berada di lombok yang hanya dimiliki oleh orang sasak asli. Naskah tersebut merupakan peninggalan dari  Nenek Moyang pada masa lampau sebagai leluhur dan diwariskan secara turun-temurun agar tetap di jaga dan dilestarikan oleh rakyat setempat. Sebelum kami menemui beliau, terlebih dahulu kami mengkonfirmasikan hal tersebut dengan menghubungu beliau. Apakah beliau setuju untuk diwawancarai dan siap membantu kami ataukah malah sebaliknya. Dan setelah mendapatkan persetujuan dari beliau sendiri, kami berangkat menuju kekediamannya. Dalam perjalanan mencari naskah, saya tidak sendiri, ada 6 orang teman kelas saya yang ikut bergabung dalam mencari naskah tersebut. Perjalanan kami mencari naskah kuno cukup terkesan, kami bisa belajar sambil jalan-jalan dan menikmati keindahan alam di lombok. Sesampainya kami di kediaman beliau, kami disambut dengan sangat baik oleh beliau dan keluarganya.
Saya dan teman-teman kelompok saya mencari naskah kuno pada hari selasa, 22 Oktober 2019 di desa Bangket Parak, Kecamatan pujut, Lombok Tengah. 
Perjalanan kami dari Mataram menuju desa tersebut memerlukan waktu kurang lebih 1 jam. Saya mendapatkan informasi adanya naskah kuno di desa Bangket Parak dari salah satu Alumni dan kebetulan beliau satu prodi dan satu Universitas dengan saya. Di desa tersebut ada salah seorang pegiat naskah kuno yang bernama Mujahidun Nafis lahir di Lombok Tengah, 27 Oktober 1980. 


Foto bersama pegiat naskah kuno di lombok tengah
Beliau juga termasuk dalam salah satu Dewan adat sasak dan sekarang juga beliau berprofesi sebagai PNS mengajar di salah satu sekolah Dasar didesanya, dulu beliau menempuh pendidikan perguruan tinggi dan mengambil jurusan yang sama seperti saya yaitu pendidikan Bahasa dan Seni di Universitas Muhammadiyah Mataram. Beliau memiliki hobby dan kecintaan terhadap benda-benda peninggalan masa lampau, beliau memiliki berbagai macam naskah kuno dan benda-benda pusaka lainnya. Sekarang ini beliau menggantikan posisi almarhum kakeknya dan kegiatan beliau sehari-hari sepulang mengajar yakni menyalin teks naskahnnya. Beliau menyalin teks sehari yaitu selembar dalam waktu 1 bulan. Teks tersebut berbentuk aksara kawi yang ditulis di daun lontar serta alat untuk menulis menggunakan ujung pisau. Kata beliau orang yang menulis nakah kuno adalah orang-orang yang memiliki hati dan jiwa yang halus artinya tidak sembarang orang dan tidak semua orang bisa. Beliau memiliki beragam naskah kuno, tapi yang saya dapatkan naskah kuno dari beliau yakni Hikayat Nur (Nabi).

Foto bapak mujahidum saat membacakan naskah kuno.
Naskah  tersebut merupakan peninggalan para wali (yang tidak mau dikenal), jenis naskah ini ialah tembang pukur. Naskah ini menceritakan perjalanan Isra Mi’raj atau perjalanan Nabi besar Muhammad Saw yang sedang mencukur. Dimana rambutnya nabi ini terdiri dari jumlah ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an yaitu ada 30 juz, 114 surah, dan 6236 ayat. Dalam cerita ini ada sehelai rambut nabi yang hilang ketika beliau dicukur, dan rambut beliau tersebut disambar oleh tujuh bidadari yang amat cantik nan jelita. Rambut nabi tersebut di ambil oleh sekumpulan bidadari dan dijadikan sebagai jimat dan kepercayaan untuk berobat orang-orang pada masa lampau. 


Naskah kuno hikayat nur (Nabi)
Kegunaan naskah tersebut, di Pujut memiliki kepercayaan bahwa naskah ini digunakan untuk berobat baik itu sakit, stres, ataupun jenis penyakit lainnya. Biasanya naskah ini digunakan pada malam Jum’at, konon katanya setelah naskah ini digunakan ada yang sembuh ada juga yang meninggal. Salah satu contoh yang pernah dibuktikan oleh masyarakat didesa tersebut ialah contoh padi yang kurang subur, untuk mengatasi hal tersebut, masyarakat disana melakukan kepercayaan itu dengan cara mengambil air kemudian mengelilingi tanaman padi sambil membaca jimat atau naskah kuno tersebut pada malam Jum’at.
Banyak sekali nilai atau makna yang terkandung dalam naskah tersebut ialah bahwa isi cerita dalam naskah ini bisa dijadikan sebagai panutan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, dengan adanya naskah kuno bisa membantu masyarakat untuk mencintai dan mengenal kembali budaya serta  peninggalan dari nenek moyang pada masa lampau. Hasil peninggalan tersebut dijadikan sebagai leluhur dan diwarisan secara turun-temurun untuk  generasi-generasi berikutnya dan dijaga serta dilestarikan sebagai bentuk kecintaan masyarakat terhadap adatnya. Dengan kita menjaga dan melestarikannya bisa membantu masyarakat lain untuk mengetahui bagaimana awal mula terbentuknya suatu daerah serta adat maupun kebiasaan di Sasak/Lombok. 
Mungkin ini saja yang bisa saya bagikan kepada teman-teman mengenai perjalanan saya untuk mengetahui terkait dengan isi naskah yang saya paparkan di atas. Semoga bermanfaat dan bisa membantu teman-teman mengetahui seluk-beluknya daerah sasak.
Sekian dan Terimakasih.

Komentar

  1. Luar biasa, sangat bagus👍👍😆

    BalasHapus
  2. Keren dan sangat Bermanfaat Artikel ini, saya menunggu Artikel anda selanjutnya.

    BalasHapus
  3. Tiddak ada yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Tetaplah berkereasi.

    BalasHapus

Posting Komentar